Lala menatap Lynx dan Jelita dengan kening berkerut. Ia menangkap keanehan dari sorot mata mereka, dan instingnya langsung bereaksi.

"Ada apa ini? Kenapa kalian bertingkah aneh? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanyanya curiga, langkahnya maju mendekati mereka.

Jelita segera menyusul, berdiri lebih dekat dengan Lala. Tatapannya serius. "Lala, katakan... kalau kamu bisa kembali ke duniamu dan mengambil semua perlengkapanmu, apakah kamu bisa menemukan cara membuka gerbang dimensi untuk menyelamatkan teman-teman kita?"

Lala tampak kebingungan. Ia menatap Jelita, lalu berpaling ke Lynx. "Aku tidak yakin... Tapi dengan alat dan sumber dayaku di sana, mungkin saja. Setidaknya aku bisa mencoba. Tapi... tunggu, kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?" Ucapannya terhenti, napasnya tercekat saat melihat Lynx yang mulai tersenyum, wajahnya tampak lebih cerah seperti baru menemukan secercah harapan.

"Lynx... Bukankah kamu yang menyelamatkanku? Kamu membawaku kembali ketempat ini, bukankah artinya kamu sudah pergi ke duniaku. Apakah kamu bisa kembali lagi ke duniaku?" tanya Lala dengan dada berdebar. Meski banyak musuhnya dan tidak lagi ada keluarga di dunia itu, tetapi kenangan tentang tempat itu sangat melekat, terutama makanan nikmat dan kasur empuk.

"Iya aku membawamu dari sana dan bisa membawamu kembali kapanpun?" kata Lynx dengan tersenyum.

Lala yang mendengarnya membelalakkan mata. "Kalau begitu, kita bisa pergi mengambil semua alat penelitianku dan memeriksa dimensi itu lebih jauh!"

"Apa kamu tidak takut mereka menangkapmu lagi di tempat itu?" tanya Jelita.

"Bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang menyelamatkan Kael dan yang lainnya." jawan Lala dengan nada tegas dan yakin.

Lynx menganggukkan kepala tanpa ragu. "Mundurlah. Jangan ada yang menyentuhku."

Lala dan Jelita segera mengambil jarak. Dalam sekejap, dari tubuh Lynx terpancar aura qi spiritual yang begitu kuat, gelap dan pekat berwarna hitam keunguan, berputar melingkar seperti pusaran energi yang menggetarkan udara di sekitarnya. Rasa dingin menyeruak, membuat bulu kuduk berdiri meski malam telah lama turun.

Lala menoleh ke arah Jelita, berbisik dengan nada ngeri, "Energi iblis? Sejak kapan Lynx punya energi iblis seperti itu?"

Namun Jelita hanya diam. Matanya terus tertuju pada Lynx, tanpa berkata sepatah kata pun.

Lynx mulai merapal formasi dengan jari-jarinya, menciptakan lingkaran simbol bercahaya yang menari di udara. Detik berikutnya, portal bercahaya muncul di depan mereka, berputar perlahan namun stabil, mengeluarkan aura kuat yang mengguncang tanah di bawah kaki mereka.

Lala yang ingin bertanya, membatalkan niatnya. DIa yakin, kekuatan apapun yang dimiliki Lynx, dia tidak akan menyalahgunakan. Dia bisa bertanya mengenai hal itu lain waktu.

Tanpa membuang waktu, mereka berempat melangkah masuk ke dalam portal. Namun sesuatu terjadi.

Sesaat setelah mereka muncul di balik portal dimensi, Lala dan Jelita yang belum memiliki kemampuan terbang langsung terjatuh kebawah, kearah lautan yang luas. Lynx dengan sigap menangkap Isha dan meletakkannya di punggungnya, lalu dengan cepat merangkul Jelita dan Lala sebelum tubuh mereka jatuh ke laut.

"Kita muncul di atas laut dekat kota Hesperis agar tidak menarik perhatian," ucap Lynx tenang. Tubuh Lala, Isha dan Jelita melayang di langit malam dalam rangkulan Lynx, di atas permukaan laut yang tenang. Angin laut menyapu wajah mereka berempat, dan gelombang air memantulkan cahaya bintang dari atas. Di kejauhan, cahaya kota Hesperis mulai terlihat, gemerlap di tepi horizon.

Lala memalingkan wajahnya dan menunjuk ke arah kiri. "Hmm... tidak menarik perhatian, ya? Lalu itu apa?"

Lynx mengikuti arah pandangan Lala. Sebuah kapal besar tampak melaju pelan tak jauh dari mereka. Lampu-lampu terang menyinari dek, dan puluhan penumpang berdiri berdesakan memandang ke arah langit, menatap mereka bertiga. Beberapa dari mereka mengangkat perangkat canggih berbentuk persegi, dengan cahaya merah menyala di ujungnya, merekam setiap detik kehadiran tiga sosok misterius bersama seorang anak kecil yang muncul dari pusaran cahaya.

Isha yang mendengar percakapan Lynx dan Lala tertawa geli, terutama saat melihat ekpresi Lynx yang terlihat malu sekaligus kesal.

Lynx memijit pelipisnya dengan wajah kesal. "Duh... aku tidak menduga kapal lewat di sini malam-malam begini. Kita harus segera pergi dari sini sebelum kehebohan makin besar."

"Kita ke kota Hesperis sekarang," lanjutnya sambil memutar arah. "Lala, tempat penelitianmu benar di kota itu, bukan?"

Lala mengangguk cepat. "Iya."

Lynx langsung melesat terbang dengan kecepatan tinggi, membelah udara malam bersama dua sosok dalam rangkulannya.

Isha yang berada di punggung Lynx merasa heran dan takjub melihat Lynx memiliki kemampuan untuk terbang. Namun dia tidak terlalu heran karena dia sudah pernah mendengar di dunia tempatnya berasal ada juga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk terbang.

Di tengah perjalanan, Jelita memandang ke arah kapal besar yang perlahan menjauh, lalu bertanya dengan polos, "Lala... binatang apa yang tadi dinaiki orang-orang itu? Ukurannya sangat besar... dan terlihat seperti makhluk laut, tapi bentuknya aneh."

Lala dan Isha tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa Jelita, yang berasal dari dunia tanpa teknologi, tentu tak mengenal benda-benda modern. "Itu namanya kapal. Bukan hewan, Jelita. Itu kendaraan, seperti kereta, tapi untuk di laut." kata Lala sambil tersenyum, mencoba menjelaskan dengan sederhana.

Jelita hanya mengangguk pelan, namun matanya tak bisa menyembunyikan kekaguman dan rasa asing terhadap dunia yang kini perlahan mulai ia lihat dengan cara baru.

Begitu mencapai pinggiran kota Hesperis, cahaya kota menyambut mereka dengan kerlap-kerlip yang mencolok, bagaikan bintang-bintang yang turun dari langit dan memenuhi jalanan. Bangunan tinggi menjulang, kendaraan melaju cepat di atas jalan berlapis logam, dan layar-layar raksasa menampilkan gambar bergerak berisi iklan dan berita. Wajah Jelita dan Isha terlihat mengagumi keindahan kota Hesperis.

"Hah, akhirnya aku bisa kembali ke kota ini. Sungguh tidak bisa kupercaya." suara Lala terdengar pelan memecah keheningan diantara mereka berempat. Rasa takut Lala terhadap komandan Vex tidak sebesar rasa rindunya dengan makanan yang memanjakan lidah dan kasur yang sangat empuk. Di Dunia kultivasi, sekaya apapun seseorang, tidak akan pernah bisa memiliki kasur lembut dan empuk seperti di dunia modern.

Lynx menoleh ke Lala. "Di mana laboratoriummu?"

Lala menunjuk ke sebuah arah, "Dari tempat ini masih cukup jauh, tapi jika kita terbang, bisa menempuhnya dengan cepat."

Tanpa menunggu lagi, Lynx langsung terbang ke arah yang ditunjuk dengan Jelita dan Lala masih berada dalam dekapannya. Dalam hati Lynx bersyukur Leena tidak mengetahuinya atau dia akan kena masalah lagi.

Sepanjang perjalanan melintasi kota, mata Jelita membelalak tak henti. Ia menatap ke segala arah seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke dunia penuh keajaiban. Namun, bukan keajaiban spiritual seperti yang biasa ia lihat di dunia asalnya, melainkan keajaiban yang bernama teknologi. Isha dan Jelita dengan sabar menjelaskan semua pertanyaan Jelita. Meski memiliki banyak perbedaan, namun Isha tetap memahami teknologi canggih yang menyerupai tempat asalnya.

"Apa itu?!" serunya sambil menunjuk kendaraan meluncur cepat di jalanan. "Kenapa kotak besi itu bisa berjalan sendiri?"

"Itu mobil," jawab Isha sambil tertawa kecil. "Sejenis kereta, tapi digerakkan dengan bahan bakar dan mesin."

Jelita menatap heran. "Mesin...? Bahan bakar...? Hah? Apa itu? Dunia ini benar-benar aneh..."

Kemudian pandangannya tertumbuk pada layar besar di sisi gedung yang menampilkan seorang penyanyi sedang menari diiringi cahaya berwarna-warni. "Apa itu? Wanita raksasa itu kenapa ada di dinding? Dia terjebak di dalam batu kah?"

Lala tak bisa menahan tawa, suaranya menggema ringan. "Itu bukan batu, Jelita. Itu layar sedangkan orangnya sendiri berada jauh dari tempat ini. Jika di tempat kita, sejenis artefak yang di gunakan kultivator untuk menyimpan ingatan atan memantulkan gambar dan suara dari tempat lain."

Jelita mengerutkan dahi. "Artefak? Sungguh ajaib dan aneh..."

Lala menepuk ringan bahunya. "Itulah kehebatannya teknologi. Di dunia ini, orang-orang menciptakan alat tanpa qi, tanpa kekuatan spiritual. Mereka menciptakan semua ini dengan logika dan ilmu pengetahuan."

Jelita masih terheran-heran. Ia melihat sekelompok orang yang sedang berbicara dengan benda kotak kecil di lengannya sambil tertawa keras. "Itu... benda apa lagi? Kenapa dia berbicara sendiri dengan tangannya?"

"Itu sejenis artefak komunikasi," jawab Lala geli. "Benda itu bisa digunakan untuk bicara dengan orang lain, walaupun berjauhan. Bisa juga untuk main permainan, baca buku, nonton video, dan banyak lagi."

Jelita terdiam, sejenak terlihat bingung. "Aku tidak mengerti... dunia ini terasa... asing, tapi juga menakjubkan."

Lynx yang mendengarnya tetap terbang dengan santai dan tersenyum. "Dunia ini memang berbeda, Jelita. Tapi percayalah, semua keajaiban ini lahir bukan karena kekuatan, tapi karena manusia yang terus berusaha mengatasi keterbatasannya."

